Jemari Lentik yang Mengais Rizki

Posted by: ARYA PANJI WICAKSONO in Uncategorized No Comments »

Darmaga, Bogor.

Diorama kehidupan kampus rakyat ini memang benar-benar terlihat merakyat. Terlintas lalu lalang para sarjana muda yang sedan menuntut ilmu, Diantara itu, ada jemari-jemari lentik anak-anak di bawah umur yang senantisa dengan setianya menjajakan dagangannya. Rela tidak bersekolah demi mendapatkan makan hari ini, dan yang pasti membantu sang orang tua menyambung hidup kembali. Siapa yang salah, apa yang harus diperbuat. Hai para Peninggi, pelalu lalang dan pasal 34 Ayat 1..dimana kalian..?

lakukan atau diam..

Senja Kepemimpinan di Bumi Pertiwi

Posted by: ARYA PANJI WICAKSONO in Uncategorized No Comments »

Kepemimpinan

Senja Kepemimpinan di Bumi Pertiwi

Rangkuman:

Meredupnya jiwa kepemimpinan di negeri ini merupakan tantangan dimensional bagi para penerus kemerdekaan ini. Bak senja yang di pertiwi yang selalu menyimpan sejuta di pagi hari. Begitu juga dengan kepemimpinan di negeri ini yang samakin meredup di balik cahaya yang pernah dibuat. Krisis kepemimpinan dan krisis penerus sebagai seorang pemimpin. Dilematis ini yang sedang dialami negeri. Oleh karena itu dibutuhkan seorang penerus pergerakan peradaban yang didambakan oleh semua umat. Lakikan pergerakan untuk membuat bumi pertiwi tersenyum.

Rahasia akan kegelapan malam, membawa sebuah cerita pagi hari di negeri ini. Kehidupan yang tak pernah lekang akan permasalahan yang mencuatsetiap hari semakin terlihat. Merancang design perubahan akan arti nasionalisme, menjadi nilai tambahdalam membentuk pribadi bangsa ini. Berangkat dari sebuah kepercayaan, fenomena di negeri ini ironois, bahkan terkikis menjadi sebuah arti dari kepercayaan. Jika anda tidak tahu, mari kita cari tahu kebenaran akan yang terjadi. Untuk menuju indahnya perubahan negeri ini.

Mungkin semangat itu tidak seperti dulu lagi, membara, menyala, menggelegar hingga menjadi bingar ketika tegar. Semangat empat puluh lima yang menjadi dilema diatas  selembar surat proklamasilah berakhir. Kegigihan pemuda di zaman kemerdekaan berbeda konteks dengan pemuda zaman sekarang. Tapi walaupun berbeda konteks, sifatnya pun berbeda. Lebih mementingkan individualis, mengedepankan kelompoknya dan melupakan bangsanya. Sedikit banyak seperti ini keadaannya. Minim kontribusi yang nyata akan nasionalime kebanggaan adalah yang sekarang terlihat

Menelusuri gejala kehidupan yang sedang terjadi sekarang menjadi tantangan tersendiri bagi para pemuda. Pemuda yang menjadi harapan bangsa, senantiasa harus membuka kesadaran akan tugasnya sebagai anak bangsa. Tidak perlu membawa bambu runcing sebagai senjata, tapi senjata yang dibutuhkan saat ini adalah senjata yang nyata untuk dapat berkontribusi langsung untuk negeri ini.

Problema yang dihadapi negeri ini cukup berat. Dari muylai lokal sampai internasional, dari mulai legal sampai ilegal dan dari mulai kelas teri sampai kelas kakap. Romantika perjuangan sangat didambakan oleh jutaan penduduk negeri ini, yang haus akan seorang sosok pemimpin. Bukan seorang pemimpin biasa, di negeri ini sudah banyak seorang pemimpin yang sudah siap tampil di Istana Negara dengan sejuta progran jangka panjangnya. Sudah banyak yang siap dengan janji-janji akan kesejahteraan rakyatr dan kemakmuran untuk bangsa ini. Tetapo, mungkin belum ada yang memounyai persiapan menjadi seorang yang benar-benar ikhlas menjadi pemimpin. Seperti apakah, kita sama coba carti dan kaji untuk bangsa ini.

Mungkin terlalu mudah untuk seseorang menuliskan sebuah gagasan, tapi untuk melaksanakannya tak seindah yang ada. Tetapi ada sarat makna lebih dari sebuah kata-kata untuk mengubah paramadigma seseorang dan memotivasinya melalui rangkaian kata. Rangkaian kata memiliki kekuatan dahsyat dalam membentuk kehidupan. Apalagi bila disertai strategi prakteknya.

Sebagai pemuda, yang nantinya akan memimpin negeri ini. Pemuda yang akan  selalu bergerak demi membawa perubahan yang positif di bangsa ini. Indonesia membutuhkan. Indonesia membutuhkan pemuda yang akan memimpin bangsa ini. Bangsa yang penuh gejolak yang mengolah dalam melodi, berdetak dalam nadi kemerdekaan dan senantiasa berkembang layar menjadi besar, Siapakah pemuda itu, pemuda itu kita. Indonesia membutuhkan kita. Para pemujda bangsa pemimpin masa depan pertiwi ini. Meredupnya jiwa kepemimpinan di negeri ini merupakan tantangan dimensional bagi para penerus kemerdekaan ini. Bak senja yang di pertiwi yang selalu menyimpan sejuta di pagi hari. Begitu juga dengan kepemimpinan di negeri ini yang samakin meredup di balik cahaya yang pernah dibuat. Engkaulah pemuda, harapan dari bangsa ini untuk mewujudkan suatu kepemimpinan yang solid.

Tetapi pada kenyataan sekarang, mungkin banyak pemuda yang melakukan penyimpangan pada masanya. Alih-alih mencari jati diri, malah terperosok ke arah yang seharusnya tidak dipilih. Mungkin faktor psikologi menjadi tugas tersendiri bagi kedua orang tua mereka. Tapi Selain pengaruh psikologi, faktor lingkungan pun memiliki pengaruh vital dalam pembentukan karakter remaja yang selanjutnya akan diperankan dalam proses sosialisasinya sebagai makhluk sosial, termasuk perannya untuk berbuat kenakalan atau tidak. Seseorang dapat menjadi buruk atau jelek karena hidup dalam lingkungan yang buruk (Eitzen, 1986:10). Lebih jauh dikritisi, kondisi semacam itu memungkinkan seorang remaja melakukan penyimpangan karena lingkungan telah mengalami disorganisasi sosial, sehingga nilai-nilai dan norma yang berlaku telah lapuk atau seakan tinggal nama/ sebagai simbol. Dengan kata lain, sanksi yang ada seolah sudah ‘tidak’ berlaku lagi. Apalagi jiwa nasionalisme yang ada di dalam dirinya, apakah masih tertanam di jiwa indonesianya. Apakah hanya tinggal angan yang terbang mengawang tak bertuah.

Mungkin ini salah satu permasalahannya untuk mencari seorang pemimpin negeri ini. Belum siap sistem kita untuk mencetak generasi pemimpin di masa depan. Gagasan ini mungkin sedikit ngawur, tapi bisa dikaji dan dilaksanakan sebaik-bainya agar tidak ngawur. Polemik keadaan lingkunganlah yang harus diselesaikan.  Leadership ways, sebuah program pembinaan kepimpinan untuk mewujudkan pemuda-pemuda yang berjiwa tangguh, mandiri, agamis dan prestatif. Berpedoman kepada cinta akan bangsanya, agamanya dan dirinya. Untuk menjadi insan yang akan bergerak penuh nasionalis dan bernapaskan agamis. Mungkin tidak akan semua pemuda menjadi penggerak dalam artian bergerak di pemerintahan untuk memimpin bangsa ini. Tapi bangsa ini masih perlu seorang “study oriented” yang nantinya akan bergerak untuk memajukan penelitian termutakhirkan yang dapat mengharumkan negeri ini. Kita juga butuh pemuda yang senang dengan hobi mereka, yang mana akan membawa mereka ke puncak karir. Baik dari mulai hobi olahraga, disain, seni sampai hobi menulis yang nanti akan membawa pergerakan juga. Disinilah semua dibina, untuk menjawab tantangan bangsa ini kedepannya.

Kepercayanlah untuk memungkin ini program wajib yang bisa diajukan menjadi kurikulum sekolah atau menjadi mata kuliah untuk mahasiswa. Berisi pengajaran yang syarat makna akan tentang apa itu pemimpin, bagaimana seorang pemimpin yang baik dan tahap kita untuk menjadi seorang pemimin. Pemimpin untuk dirinya sendiri dan juga untuk kemaskahatan umat. Memang susah mewujudkan hal ini, pasti akan terpikirkan, bagaimana silabusnya dan siapa yang mengajarnya. Pasti banyak argumen yang datang. Tapi tidak buat saya, bukan suatu yang tidak mungkin untuk mewujudkan hal ini. Berangkat dari sebuah keyakinan dan keadaan yang ada ini dapat terwujud.

Bermodalkan esai ini mungkin nanti dapat diajukan ke pengayom negeri ini untuk mencari inovasi learning untuk penerus bangsa ini. Konsepan mungkin belum terlihat jelas, tapi ini orisinil untuk kebaikan pemuda. Akan disamapaikan materi, kemudian dilengkapi dengan praktek langsung yang bertumpu pada pengen\mbangan soft skill, dan juga pelatihan membentuk karakter. Semua itu terkemas dalam “Leadership ways”. Tujuan dari gagasan ini tidak lain dan tidak bukan, hanya untuk membentuk generasi penerus bangsa yang beradab. Karena akan ada regenerasi nantinya di negeri ini, jika generasdi muda sekarang hanya berkiblat kepada game online sampai diskotek. Mau jadi apa bangsa ini, mau jadi apa negeri ini, mau jadi apa dunia ini dan mau jadi apa kita. Ayo bangun kepemimpinan berjiwa nasionalis dibawah naungan agamis.

Dibalik senjanya kepemimpinan di negeri ini. Masih banyak calon-calon yang akan menjadi pemimpin nantinya. Perlu sedikit torehan dari sebuah pembinaan untuk mewujudkan hal itu. Sama sama kita bergerak, membawa perubahan. Dengan program tersebut, saya bisa memastikan bahwa “Macan Asia” bahkan “Macan Dunia” akan melekat manis di bumi pertiwi ini. Problematika dari sebuah peradaban yang menjadi masalah akan segera terjawab dari indahnya pergerakan ini.